Adsense

Senin, 27 April 2009

Hakikat Cinta

Perasaan cinta kepada Alloh merupakan dasar untuk menjadikan amal yang sholeh dan ibadah yang benar. Amal perlu dilandasi oleh perasaan cinta, tanpa rasa cinta, amal akan menjadi rusak. Cinta kepada Alloh melahirkan sikap rela, ridha dan ikhlash dalam beribadah, melaksanakan semua perintah-Nya. Bahkan rasa cinta mampu untuk membangkitkan semangat berkurban (tadhiyah) baik harta maupun jiwa (amwal wa anfus) dalam rangka mengikuti perintah yang kita cintai.
Alloh berfirman:

. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat, : 15).

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah, : 111).

Cinta akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Bukankah kita lihat, seorang pemuda tiba-tiba merubah penampilannya menjadi lebih rapi ketika ia telah merasakan benih-benih cinta kepada lawan jenisnya. Cinta kepada Alloh akan membawa ketenangan, kedamaian dan keselamatan. Cinta kepada selain Alloh membawa kepada cinta buta (al isyqu) yang tak terkendali. Cinta kepada makhluk membawa ketidakpastian, penasaran dan kesenangan semu. Cinta kepada benda akan musnah, manakala benda tersebut hilang, rusak atau musnah. Terkadang juga disertai perasaan sedih. Sedangkan cinta kepada Alloh akan kekal dan abadi sebagaimana kekal dan abadinya objek cinta itu, Alloh SWT.
Fithrah manusia cenderung untuk mencintai istri-istri, anak-anak, harta benda. Tetapi cinta ini tidak boleh melebihi derajat kecintaan kepada Alloh, Rasul-Nya dan jihad fii sabilillah. Firman-Nya:
Artinya: “ Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At Taubah 9:24).

A. Perasaan Cinta Lahir dari Ilmu
Bukti keutamaan ilmu adalah ia mampu menghasilkan keyakinan yang menyebabkan hati hidup dan tenteram. Juga yang menyebabkan Alloh memuji orang-orang yang bertaqwa yang mendapatkan petunjuk melalui kitab-Nya.[1]
Perasaan cinta tidak akan ada jika seseorang tidak mengenal (ma’rifat) dengan objek yang dicintainya. Pengenalan terhadap objek akan menghasilkan ilmu, baik ‘ainul yaqin ataupun haqqul yaqin.
Sesungguhnya orang yang berilmu dan yakin, yang telah dianugrahi Alloh, kepekaan jiwa yang tajam dan cahaya yang terang benderang , tidak akan kabur baginya untuk memilih mana yang haq dan mana yang batil. Ia tidak akan terpengaruh oleh propaganda kesyubhatan yang ada di hadapannya. Seperti halnya ia tidak akan terseret oleh nafsu syahwat ke jurang kenistaan. Ia bisa tegar seperti itu karena berbekal dengan dua senjata yang kuat yang mampu dipergunakan untuk menahan bala tentara kebatilan. Diapun mampu mencegah invasi bala tentara syahwat dengan senjata kesabaran dan invasi bala tentara syubhat dengan senjata keyakinan.[2]
Ibnul Qayyim berkata, “Keyakinan dan kecintaan merupakan pilar keimanan. Atas kedua pilar itulah keimanan dibangun. Berkat kedua pilar itu pula keimanan bisa tegak. Kedua pilar itulah yang menyuplai semua amalan hati dan amalan badan. Dari kedua pilar itu amalan tersebut muncul. Jika kedua pilar itu lemah, maka semua amalan tersebut juga lemah. Sebaliknya, jika kedua pilar itu kuat, maka semua amalan tersebut juga kuat. Sebenarnya alat yang dipergunakan untuk membuka semua pintu menuju kepada tingkatan-tingkatan orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Alloh dan maqam-maqam terminal-terminal) orang-orang yang arif bijaksana adalah kedua pilar tersebut. Kedua pilar itu membuahkan semua karya yang baik, ilmu yang bermanfaat dan petunjuk (pedoman) yang lurus.”[3]

B. Cinta merupakan Fitrah Manusia
Manusia terlahir berkat rasa cinta kedua orang tuanya sebagai perantara cinta Alloh kepada manusia. Manusia mencintai istri-istrinya, anak-anaknya, serta harta yang dimilikinya. Hal ini adalah fitrah yang dimiliki oleh manusia. Sebagaimana firman Alloh SWT :
Artinya: “ Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Qs. At Taubah 9:24).
Setiap manusia memerlukan rasa cinta kepada manusia lain. Cinta ini dapat berupa cinta kepada keluarganya,cinta kepada saudara-saudaranya, cinta kepada sesama umat manusia. Perasaan ini tidak dapat dihilangkan begitu saja dalam diri manusia. Perasaan untuk dicintai dan mencintai ini merupakan perasaan yang sesuai dengan fitrah manusia untuk saling mencintai.
Islam memandang bahwa perasaan cinta sebagai sesuatu hal yang harus mendapatkan salurannya dan tidak malah dihambat ataupun dimatikan. Pernikahan merupakan jalan yang sesuai dengan ajaran agama Islam untuk melanggengkan perasaan cinta antara dua insan manusia yang saling membutuhkan dan melengkapi.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا
Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[4], maka (kawinilah) seorang saja], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. QS. An Nisaa’ : 3

C. Penyebab Adanya Rasa Cinta
Tiada asap tanpa ada api. Sesuatu ada karena ada yang menyebabkan. Begitulah bunyi hukum kausalitas (sebab akibat). Perasaan cinta tidak muncul dengan begitu saja, tetapi ada hal-hal yang menyebabkan timbulnya perasaan cinta itu. Sebab-sebab timbulnya perasaan cinta tersebut adalah:
1. Secara fitrah manusia suka kepada keindahan
Alloh memberikan fitrah kepada manusia untuk suka kepada keindahan sehingga ia mudah untuk suka dan kagum pada keindahan, kecantikan atau ketampanan seseorang. Alloh menciptakan keindahan dalam pandangan manusia karena Alloh itu indah dan mencintai keindahan.
2. Manusia adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya.
Kelemahan manusia dan ketidakberdayaannya menyebabkan manusia untuk mengikuti Dzat yang memiliki kekuatan, keperkasaan. Dialah Alloh SWT, Al Malik, Al Aziz.

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi
Maha Perkasa. (QS. Al Hajj: 40)
3. Manusia cenderung membutuhkan orang lain.
Manusia merupakan makhluk yang lemah. Ia senantiasa membutuhkan kehadiran orang lain. Bahkan sejak masih di dalam kandungan, kita sudah membutuhkan orang lain.
Seorang ibu ketika hamil membutuhkan seorang dokter untuk senantiasa memeriksa kondisi kandungannya. Pada saat mau melahirkan, membutuhkan dokter maupun bidan untuk membantu proses kelahiran sang bayi. Saat kita masih kanak-kanak sangat membutuhkan kehadiran dan pertolongan orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita. Pada saat remaja kita juga membutuhkan kehadiran orang lain. Selama kita di dunia ini sangat membutuhkan pertolongan maupun keterlibatan orang lain. Inilah hakekat manusia sebagai makhluk sosial.
[1] Qardhawy, Yusuf, Jalan Menuju Hidayah : Kehidupan Ruhiyah Salafus Shalih Kiat-Kiat Meningkatkan Kehidupan Ruhiah, Yogjakarta : Mardhiyah Press, h. 171.
[2] Ibid., h. 174.
[3] Ibid., h. 175.
[4] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam melayani isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

1 komentar:

Warjoko mengatakan...

Coba coba dulu